LE…LE….. CAH NGGANTENG

Malam disudut kota penuh keramaian, mas pesan kopi hitam, jangan pahit ya, manis aja…. iya mas tunggu sebentar ya mas.

Dengan sabarnya pemuda itu menunggu datangnya secangkir kopi hitam manis pesanannya. dikeluarkannya sepack rokok yang dibawanya dari pagi siang sore itu…. kebul..kebull..kebulll asap rokok yang membumbumg tinggi diatas meja yang diduduki, tak terasa pemuda sudah hampir habis dua batang ku lihat….tak kunjung datang kopi hitam manis pesananya itu (tapi tetap dengan sabarnya pemuda itu menunggu). Ku lihat kembali, lhoo….dinyalakannya rokok ketiganya itu, sudah hampir tiga batang habis dihisapnya….hmmmm
kletuk..kletuk..kletuk… langsung ku tengok, teryata suara kaki mas-mas warkop bergema untuk mengantarkan kopi pesanan ke meja pemuda itu, maaf mas lama ( dengan muka dinginnya si pengantar kopi), iya mas g papa santai aja ( dengan senyum pemuda itu menjawab)…

Sssssrrruuuuuppppttttt….. terdengar suara tegukan pertama, terus kulihat ekspresi wajah pemuda itu, lho…lhoo…kok ndak menunjukkan ekspresi wajah yang sewajarnya orang meminum kopi untuk melepas lelah maupun masalah. Hmmmm.. rasanya pahit, Hahahaaaaa..sambil tertawa, yo wes lah, meskipun pahit yow diombe mengko juga enak kok (Terdengar sayup-sayup di telingaku)…kemudian dibakarnya rokok keempatnya dan seterusnya di barengi dengan tegukan kedua, ketiga dan seterusnya….terlihat habis satu pack rokok yang digenggamnya

sudah larut malam dia berbincang dan menikmati malam di sudut kota. Mas sudah mas…. berapa kopi hitam satu, 3000 mas (tetap dengan dinginnya penjual itu menjawab). Ini mas…sambil menunggu kembalian uang 5000 annya. Pemuda itu kemudian berjalan menuju motor yang ditungganginnya…. jrengggggggg jrenggggg jrenngggg…… kembalilah pemuda untuk melepas lelah hari itu, untuk menikmati secangkir kopi hitam manis pesananya esok hari……

Ketika Alammu Menyapa (Gunung Kelud)



Hallo sodara-sodara sekalian dan teman-teman sekalian, tenem-temen akan merasa nyaman jika melewati ratusan hektar kebun tebu dan kopi milik PDP Margomulyo, di kanan kiri jalan. Hawa yang sejuk di pagi hari, disemarakkan oleh kicau burung yang terbang ke sana ke mari.
Dari Sugihwaras, harus ditempuh sepuluh kilometer lagi sebelum sampai ke kawah Kelud. Walaupun sudah beraspal, namun bagi mereka yang membawa mobil, jangan harap dapat mengemudikannya hingga mendekati kawah. Pasalnya, jalan aspal itu hanya selebar dua meter.

Jika memang akan memasuki jalan menuju kawah, pengemudi juga harus tetap waspada, karena dari arah berlawanan sering muncul penduduk yang membawa tetumbuhan dan kayu, dan biasanya meluncur dengan kecepatan tinggi. Jangankan mobil. Pengendara sepeda motor pun harus merapat ke sisi kiri untuk menghindari tabrakan. Jika tidak, siapa pun harus siap ‘tertampar’ sebongkah tumbuhan atau setumpuk kayu.
Lepas dari papasan dengan penduduk, masih ada rintangan lain. Beberapa sisi jalan menuju kawah banyak yang longsor dan licin, terutama jika setelah turun hujan. Akibatnya, lengah sedikit saja, siapa pun dapat terperosok ke dalam jurang.

“Lolos” dari jalan berliku-liku menuju daerah kawah bukan berarti mudah memasuki kawah. Sebab, jalan aspal sudah habis di sekitar dua kilometer menjelang kawah. Sehingga, satu-satunya cara menuju kawah, adalah dengan berjalan kaki melintasi jalanan berbatu.
Dengan demikian, siapa pun yang mengendarai sepeda motor, harus rela meninggalkan kendaraannya tanpa pengamanan dari siapa pun. Atau, ia harus ikhlas untuk tidak ke kawah, alias menikmati pemandangan tebing dan pemandangan Kota Kediri bagian bawah dari tempat itu. Setelah itu, pulang tanpa menyaksikan kawah.

Berbicara tentang Gunung Kelud yang oleh Pemerintah Kabupaten Kediri akan dijadikan salah satu objek wisata andalan, sama saja membicarakan masalah infrastruktur. Di sana-sini masih banyak yang harus dibenahi.
Soal jalan tentu menjadi yang utama. Kecuali beberapa kilometer jalan di kawasan PDP Margomulyo, jalan lainnya yang menuju kawah Kelud masih harus ditingkatkan mutunya. Baik dari segi lebar jalan maupun kualitasnya. Terutama, aspal jalan di beberapa kilometer menjelang kawah.




Di kanan kiri jalan, juga belum terdapat tanaman pelindung yang meneduhkan wisatawan, utamanya jika matahari sedang bersinar dengan teriknya. “Bagi saya sendiri, soal jalan dan tanaman pelindung memang yang terpenting untuk dibenahi,” kata Sekretaris Desa Sugihwaras, Imam Muhamad Khosian.
Selain itu, ada beberapa kelengkapan penunjang lain yang menurutnya juga harus dipunyai kawasan Kelud, jika akan dijadikan sebagai objek wisata. Salah satunya adalah tersedianya papan penunjuk yang memadai di jalan-jalan menuju Gunung Kelud.

Pengembangan potensi wisata Kabupaten Kediri juga akan digencarkan melalui pendekatan-pendekatan khusus terhadap biro-biro perjalanan. Promosi Wisata KediriĀ  yang pada saatnya nanti dikemas dalam brosur dan leaflet, akan disebarkan kepada biro-biro perjalanan. Dengan demikian, secara perlahan promosi Gunung Kelud terus berjalan.